Skip to posts

Eksposisi Karya Seni Rupa Kristiani
Menggagas Persoalan Harmoni dan Pluralitas dalam Eksprsi Seni Rupa
Perjumpaan dengan karya seni rupa Kristiani kontemporer tidak selalu mudah diidentifikasi dan dicerna sebagai hasil olah suatu religiusitas. Apakah seni rupa Kristiani itu dan bagaimana perkembangan estetisnya kini? Saya: Wisnu Sasongko sebagai perupa akan berbagi pengalaman dalam proses perjalanan kesenian saya, sembari meyakini nilai religiusitas sebagai sumber inspirasi berolah seni rupa. Estetika seni rupa kini tidak lagi membawakan realitas “keindahan”, karena kriterium keindahan seni dari masa ke masa terus mengalami perubahan. Cara menandai suatu estetika seni rupa menurut Edmund Burke adalah dengan merasai sifat absolut yang ditimbulkan lewat ungkapan seni itu. Persoalan estetika seni rupa Kristiani kontemporer tidak bisa lagi sekedar merepetisi tradisi Golden Ages yang mapan. Seni rupa Kekristenan kontemporer tidak bisa lepas dari persoalan kontekstual dalam masyarakatnya. Namun ekspresi seni Kritianitas tetap bersumber pada Kebenaran imani. Penulisan ini akan dibagi dalam tiga bagian, yakni; introduksi historis. Kedua landasan ideologis dalam penciptaan karya seni rupa. Dan ketiga, eksposisi atas beberapa tonggak perjalanan estetis.
Konteks penulisan ini hendak menarasikan proses kesenian saya sebagai perupa yang sedang berproses di jalur seni rupa Kristiani. Proses penciptaan seni Kristiani saya mulai semenjak tahun 1998 hingga kini. Saya tertarik untuk mengolah subject matter “praktik kekristenan sebagai panggilan budaya”. Saya mempersoalkan gejala-gejala kekristenan kontemporer dalam konstelasi budaya Keindonesiaan yang majemuk. Realitas Keindonesiaan kini dan ke depan ditumpukan pada ideologi pemersatu bangsa; “Bineka tunggal ika”. Pertanyaannya kini, sudahkah nilai Kekristenan memberi sumbangan estetis melalui ekspresi seni rupa bagi masyarakatnya?
Panggilan artistik saya bersumber pada perjumpaan spiritual dengan pribadi Yesus telah mengubahkan hidup dan pandangan hidup saya (sekitar tahun 1995). Di atas dasar panggilan budaya dan panggilan spiritual, saya pun memulai petualangan kesenian di jalur seni rupa Kristiani. Penulisan ini berbentuk eksposisi dari seminar Religious Massages Through Painting oleh Fakultas Teologi UKDW, tertanggal 19 February 2010. Even seminar dan penulisan ini dimaksudkan untuk membuka ruang apresiasi terhadap proses estetis dalam menghayati religiusitas. Maka bolehlah saya mengajukan tesis: “Seni rupa membawakan teologi, dan sebaliknya menginspirasi teologi untuk berseni rupa”.
Introduksi:
Jenis ekspresi seni rupa Kristiani hampir jarang dijumpai di setiap kesempatan pada umumnya, apa lagi di lingkungan peribadatan gereja-gereja Protestan maupun Injili. Ruang sempit pertemuan itu hanya mungkin dijumpai pada even pameran seni rupa di suatu galeri atau museum. Bisa juga ditemui di lingkungan akademi kampus-kampus yang berbasis Kristiani khusunya Fakultas Teologi, seperti di UKDW. Betapa masih minimnya apresiasi bagi karya seni rupa Kristiani dalam lingkup gereja mau pun di luar. Bukankah tugas misioner Gereja dalam konteks perubahan budaya kontemporer serta globalitas untuk memberi sumbangan nilai estetis, salah satunya melalui ekspresi seni rupa. Nilai estetis dalam seni rupa harus dibangkitkan melalui kegiatan dilog intersubyektivitas. Namun persoalan apresiasi seni rupa juga diperlukan medium semacam; penulisan historis, kritik seni, eksposisi, review, seminar, untuk mengartikulasikan bahasa artistik dalam semangat jamannya.
Efek suatu perjumpaan dengan karya seni rupa Kristiani modern kontemporer, akan terasa berbeda dari pengetahuan historis kita umumnya pada seni Biblical di abad Pertengahan Eropa. Era Midle Age jenis lukisan mural, mozaik, relief, patung, ikon-ikon, simbol-simbol verbal yang diabdikan seutuhnya untuk mereproduksi kisah-kisah dan tokoh-tokoh Alkitabiah. Salah satunya mozaik Kristus di gereja Hagia Sophia, Istanbul Turkey. Ekspresi seni rupa di masa itu ditujukan demi memvisualisasikan pesan-pesan dan penokohan Alkitab bagi kalangan buta aksara, sehingga ekspresi visualitasnya mimetik (meniru) Biblical content. Para kreator seni di era Midle Age belum mendapat legitimasi sebagai seniman independen, melainkan dianggap sebagai pekerja atau buruh-pengrajin yang hanya bekerja berdasarkan “perintah” institusi gereja. Dan hasil karya rupa mereka belum bisa dianggap sebagai suatu karya “seni”. melahirkan
Di era Renaisance beberapa perupa seperti; Leonardo Davinci (1452-1519), Michaelangelo (1475-1564), dan Raphael (1483-1520) berjasa mempelopori wacana intelektual dalam mencipta seni rupa. Kreasi seni rupa lahir bukanlah pekerjaan buruh dan karena order semata, melainkan memiliki; struktur, gagasan, referensi, pencapaian teknis, intuisi, nilai kebaruan, serta kreativitas.[1] Kegelisahan politik di Eropa abad 15 pasca Reformasi Protestan dari institusi Roman Katolik, mencetuskan ide perlawanan “anti Reformasi” melalui medium seni rupa. Seni rupa dengan tema-tema Biblical dipakai sebagai medium propagandis dalam membawakan ideologi politis bagi institusi Keagaman, seperti karya-karya perupa El Greco (1541-1614).[2] Sedangkan ekspresi seni rupa dalam tradisi Reformed Protestant kian tidak diberi tempat apreasiasi, hanya dipakai dalam simbol-simbol praktis dan instrumen pendukung untuk sakramen peribadatan.
Era Renaissance telah melahirkan masa keemasan melalui pencapaian karya-karya seni rupa Kristiani dan arsitekturalnya, antara lain; Ghotik, Rokoko, Barok. Kesadaran Renaissance di Eropa mengusung kembali pencerahan intelektual Yunani-Romawi. Dan baru di akhir Renaisance seni rupa mulai mendapatkan legitimasi politis lewat bangunan ideologis, tematik, teknis, kreativitas, dan novelty.
William Blake (1757-1827) banyak melahirkan karya-karya lukisan mistis dan visionary bentuk-bentuk verbalisasi dari kitab Wahyu Yohanes. Ekspresi karya-karya Blake melawan kecenderungan seni rupa modern yang hanya bertumpu pada kemampuan rasionalitas dan kian bersifat materialistik. [3] Perkembangan seni rupa Kristiani modern dan pengaruhnya memasuki abad 19, digeser oleh kepentingan sekularitas, borjuasi, dan formalis. Proses impralis Barat terhadap wilayah Asia-Afrika serta merta membawa pengaruh modernitas termasuk seni rupa. Dampak dari penetrasi kebudayaan modern terhadap budaya lokal-tradisional (khususnya wilayah Asia) melahirkan sintesa kebudayaan yang dikonstruksikan secara kritis oleh cara pandang pasca kolonial; sebagai proses hegemonisasi budaya Barat.
Sekitar abad 19-20, jejak-jejak pengaruh seni rupa Kristiani di Indonesia dibawakan dalam praktik misionaris Katolik, seperti dalam karya-karya patung, relief, makara, seni bangunan, kekriyaan atau ukir, serta instrumen peribadatan. Baru di abad 20, praktik seni rupa Kristiani modern kontemporer di Indonesia mulai bermunculan secara parsial dan bukan secara disipliner. Perupa beraliran realisme sosial dan seorang kritikus seni Sudjojono; dalam beberapa karyanya melahirkan tema-tema religius, salah karyanya berjudul Kehendakmu Jadilah (1967). Perupa Bagong Kusudiarjo, cukup banyak mengeksposisi tema-tema religius kontemporer. Kelangsungan seni rupa Kristiani kini berada dalam tegangan antara persoalan representasional dan apresiasi seni yang meliputi pendukung kesenian. Ekspresi seni rupa Kristiani di Indonesia mulai hidup dan didukung oleh beberapa institusi formal seperti; ACAA, BCAA (Bali Chritian Arts Association), PGI, Fakultas teologi seperti UKDW. Namun ironisnya institusi gereja sebagai basis bagi tumbuhnya jenis kesenian Kristiani, justru masih belum memberi dukungan dan apresiasi di luar dari ukuran-ukuran dogmatis.
Penulis dan perupa,
Wisnu Sasongko S. Sn.
[1] Great Painting of the Western World, Alison Gallup, Gerhard Gruitrooy, and Elizabeth M. Weisberg, Beaux Arts Editions, Printed in China, 1997. 105-106.
[2] The A-Z of Art, The World’s Greatest and Most Popular Artist and Their Works, Nikola Hodge and Libby Anson, Carlton Books, London, 1996. 162.
[3] William Blake, ibid. 42.
continue reading…